Pesawat Sukhoi Superjet-100 yang jatuh di gunung Salak menjadi perhatian seluruh media massa dan masyarakat. Padahal sejak dahulu, gunung Salak memang dikenal sebagai lokasi penuh mitos dan legenda. Begitulah penerawangan Imam Mubarok, MS Sos I, salah satu Pengasuh Pesantren Budaya Nusantara, melihat dari sisi mistis.
"Gunung Salak itu mistis, angker. Di situ tempat orang -orang Sunda wiwitan melakukan ritual," ujar dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri ini kepada beritajatim.com, Jumat (11/05/2012) malam. Kawasan wisata Gunung Salak memang tidak hanya memiliki atraksi wisata alam namun juga wisata religi. Di lereng gunung ini terdapat sebuah Pura Hindu yang cukup besar, bernama Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung Salak.
"Ada yang menyebutkan, gunung Salak dipercaya oleh sebagian kalangan tempat Prabu Siliwangi bersemayam," imbuhnya. Sehingga di sana dibangun sebuah pura Salak. Sebab, konon di sanalah Raja Padjadjaran itu pernah berdiam dan membawa kemasyuran bagi masyarakat Sunda. Kepercayaan lain menyebut bahwa Prabu Siliwangi beserta kerajaan dan prajuritnya menghilang dan sampai saat ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
"Sukhoi ini jumawa. Merasa paling hebat dan ketika mereka terbang di atas gunung Salak, pilot digelapkan kabut dan menurunkan pesawat. Sehingga menabrak tebing," terus Barok-sapaan sehari-hari-Imam Mubarok di kalangan masyarakat. Pria yang menekuni Tosan Aji, perkerisan ini menegaskan bahwa Sukhoi jatuh di gunung Salak, Rabu (09/05/2012) tepat pada hari Sarik Agung, hari kurang baik. Menurutnya, persis dengan tragedi pesawat Garuda Indonesia di Yogyakarta, tahun 2007 silam.
Dalam insiden tersebut, pesawat Garuda jenis Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan GA-200, rute Jakarta-Yogyakarta, meledak dan terbakar hebat setelah gagal dikendalikan secara normal, sesaat setelah mendarat di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Rabu (07/03/2007) sekitar pukul 07.00 WIB. Pesawat dengan nomor registrasi PK GZC itu tinggal landas dari Jakarta pada pukul 06.00 WIB dengan membawa 133 penumpang, 120 di kelas ekonomi dan 13 di kelas bisnis.
Peristiwa ini menyebabkan 21 orang penumpang tewas dan 113 lainnya selamat. Tujuh awak pesawat, termasuk pilot dan ko-pilot juga selamat dalam tragedi hebat ini.
"Sukhoi jatuh tepat di hari Sarik Agung, penanggalan Jawa persis waktu Garuda jatuh di Jogya. Beberapa kasus bencana, kecelakaan pesawat selalu pada hari-hari Sarik Agung, Sempar, Wangke, Tali Wangke, luar biasa pendahulu-pendahulu kita. Hari Sarik Agung adalah penanggalan Jawa yang harus dihindari karena merupakan hari kurang baik," pungkasnya.
No comments:
Post a Comment