Houston - Minggu lalu sebuah rumah di Amerika Serikat terbakar. Penyidik mengatakan kalau kebakaran rumah itu disebabkan oleh sebuah mobil listrik. Keamanan sebuah mobil listrik pun kembali dipertanyakan.
Kepala investigasi kebakaran Fort Bend County, Texas, Robert Baker mengatakan kalau kebakaran di rumah itu kemungkinan disebabkan oleh sebuah mobil listrik Fisker Karma yang ada di garasi.
"Ya, Karma adalah asal api, tapi apa sebenarnya yang menyebabkannya saat ini kita tidak tahu," katanya.
Menurut Baker pemilik rumah datang dengan Fisker Karma setelah berjalan-jalan dan 3 menit kemudian mobilnya terbakar. Sang pemilik mengatakan bahwa sebelum lahirnya api dirinya sudah mencium bau karet hangus.
Kasus Fisker Karma terbakar memang sudah menjadi isu sejak akhir tahun lalu dan Fisker pun sudah melakukan penarikan dan perbaikan. Tapi masalahnya, sang pemilik baru membeli mobil ini pada bulan April lalu atau setelah kampanye recall dilakukan Fisker.
Kebakaran pun melanda garasi yang kemudian menyebar ke lantai dua diatasnya meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Sementara kerugian yang ditimbulkan kebakaran ini dipastikan berada di angka US$ 100.000, harga sang pemilik membeli Fisker Karma yang baru dimilikinya itu dan itu belum termasuk sebuah SUV Mercedes-Benz dan Acura NSX yang ikut terbakar.
"Ini tampak seperti kebakaran mobil golf. Di daerah pinggiran kota Houston telah ada sekitar 50 mobil golf (listrik) yang terbakar dalam setahun," katanya seraya mengatakan ada 15 peneliti yang menyelidiki masalah ini.
Menanggapi laporan ini, Fisker tidak mau berkomentar. Produsen mobil listrik itu mengatakan akan menanti laporan resmi yang akan segera dikeluarkan kepolisian.
"Ada laporan yang saling bertentangan dan ketidakpastian seputar kejadian tertentu. Penyebab kebakaran belum diketahui dan sedang diselidiki," jelas Fisker dalam sebuah pernyataan.
"Kami belum melihat laporan tertulis pemadam kebakaran Fort Bend dan percaya bahwa investigasi mereka terus dilakukan," tambah mereka.
"Sampai sekarang, penyidik asuransi ada beberapa yang terlibat, dan kami tidak mengesampingkan kemungkinan penipuan atau niat jahat. Kami menyadari bahwa api ditemukan di garasi di dalam atau sekitar kendaraan. Juga, sebuah panel listrik yang terletak di garasi sebelah kendaraan juga sedang diperiksa oleh penyidik serta pejabat pemadam kebakaran," paparnya.
"Berdasarkan pengamatan awal dan inspeksi, baterai lithium ion Karma tidak sedang diisi pada saat itu dan masih utuh dan tidak muncul menjadi faktor dalam insiden ini," cetusnya lagi.
"Fisker akan terus berpartisipasi penuh dalam penyelidikan tapi tidak akan berkomentar lebih jauh sampai semua fakta ditetapkan," tuntas Fisker.
sumber : detikcom
Serba Kopas Indonesia
Semua Berita Kopas Di Indonesia, Baik Lama Maupun Baru, Asli Maupun Palsu, Yang Jelas Tidak Ada Penipuan, Hanya Kopas Semata, Biar Info Selalu Tetap Ada
Friday, May 11, 2012
Survei: 12% Ibu Muda Masih Mainan Ponsel Saat ML
Hasil survei ini cukup mengejutkan. Ternyata cukup banyak ibu-ibu muda usia 18 sampai 35 tahun yang masih saja sibuk mengutak-atik ponselnya saat bercinta (ML) dengan pasangannya. Jumlahnya cukup banyak, 12% dari 1.700 responden yang diambil sampelnya.
Survei tersebut digelar di Amerika Serikat oleh lembaga penerbitan wanita, Meredith Parents Network, pada ibu muda berusia 18-35 tahun yang sudah punya anak kecil. Survei ini coba mengungkap sejauh mana wanita di Negeri Paman Sam itu menggunakan teknologi.
"Kami telah memperkirakan hasil survei memang akan seperti itu. Sayangnya kami belum punya data mengapa bisa begitu hasilnya," kata juru bicara dari Meredith Parents Network.
Memang para wanita makin kecanduan menggunakan ponsel berikut teknologi di dalamnya. Selain pada saat sedang ML, kaum hawa juga banyak yang masih memakai handset meski sedang beraktivitas di kamar mandi. Persentasenya sejumlah 21%.
Temuan lain dalam survei tersebut seperti rata-rata wanita punya 13 aplikasi terinstal di ponselnya. Separuh aplikasi itu ditujukan untuk anaknya. Sedangkan sejumlah 80% di antaranya juga mengaku sebagai pemakai situs jejaring sosial.
Survei ini diselenggarakan akhir tahun lalu dengan dibantu oleh Zeldis Research Associates dan sampelnya dikatakan mewakili seluruh Amerika Serikat. Demikian seperti dikutip detikINET dari MSNBC, Jumat (11/5/20120.
sumber : http://inet.detik.com/read/2012/05/11/154204/1915119/398/survei-12-ibu-muda-masih-mainan-ponsel-saat-ml
Tiba di Jakarta, Pacar Syahrini Ditemani Perempuan Cantik
Terkait Jatuhnya Sukhoi, Mahfudz Siddiq Punya Hidden Agenda
[Mengejar Berita: Konyol] Dua Wartawan Terpencar dari Tim SAR Sukhoi
Thursday, May 12, 2011
Agar-agar Berbumbu Bahan Kimia
Liputan6.com, Jakarta: Sebagian dari kita tentu pernah mengalami masa kecil yang dekat dengan yang namanya jajanan. Terkadang, keinginan mencoba lebih dikarenakan tampilan atau warna yang menarik, bukan karena rasa. Satu lagi, karena harga yang sangat terjangkau, bahkan untuk ukuran kocek anak-anak.
Dari sekian banyak penganan yang dijajakan, agar-agar termasuk salah satu jajanan yang digemari. Tak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa. Berbahan dasar bubuk jeli dan gula, agar-agar matang dengan tekstur lembut, kenyal, dan manis menyihir para penggemarnya. Ditambah lagi, jajanan ini mudah didapat, apalagi di sekolah-sekolah, bahkan sampai ke pinggiran kampung.
Hal ini tentu saja mengundang rasa penasaran tentang cara pembuatan agar-agar. Tergerak dengan fakta ini, usaha pembuatan agar-agar ini coba kami intip. Ternyata ada sejumlah campuran asing yang tak dikenal sebagai bahan dasar agar. ini jelas mencurigakan. Sulit mendefinisikan dengan informasi yang masih minim ini, namun warna bahaya pada anak-anak atau orang dewasa yang mengonsumsi mulai terlihat.
Informasi beredar dan sampai ke telinga kami, bahwa apa yang jadi kecurigaan mendekati kebenaran karena ada segelintir pedagang nakal yang meracik agar-agar jeli dengan bahan kimia yang berefek buruk terhadap kesehatan jika dikonsumsi. Pelacakan atas agar berbumbu bahan kimia terpantau di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Pedagang agar jeli yang dicurigai kami temui dengan penyamaran. Alasan klasik diluncurkan si pedagang seputar untung yang berlipat jika bahan dasar agar-agar diramu dengan sejumlah bahan kimia.
Pembuatan agar dengan campuran bahan kimia bukan untuk makanan ini ternyata sudah berlangsung bertahun-tahun. Sulitnya membuat jera pedagang nakal karena minimnya sosialisasi dan pengetahuan soal akibat dari memakai bahan kimia itu. Bahkan disinyalir, bukan tak mungkin usaha ilegal ini diketahui aparat terkait.
Di lokasi lain penelusuran, didapati kembali pembuat agar jeli yang menggunakan modus sama, bedanya hanya di kemasannya. Bahan baku serupa, bubuk agar jeli, plus boraks dan pewarna. Karena ingin memahami jenis-jenis bahan kimia yang digunakan dan lokasi pembeliannya, proses pembelian bahan baku ditelusuri.
Bahan baku seperti bubuk agar-agar sudah terbeli. Supaya racikan agar-agar berpenampilan menarik, si pedagang nakal melengkapinya dengan boraks dan pewarna. Untuk meramu bahan yang sudah dipersiapkan, si pedagang dibantu sang istri.
Cara mengolah tidak beda dengan memproses agar jeli pada umumnya, namun dalam adonan agar jeli ini masih dituangkan boraks, zat pewarna tekstil, juga pemanis buatan tanpa takaran yang pasti, semuanya dioplos jadi satu.
Ramuan agar jeli ini diaduk merata kemudian dipanaskan di atas kompor. Proses pengolahannya super sederhana dan sebentar sekali, hanya 10 menit. Setelah matang, agar-agar jeli berbumbu bahan kimia ini kemudian didinginkan dalam gelas plastik.
Si pedagang sebenarnya sadar betul, bahan kimia bukan untuk makanan yang ia campurkan dalam agar akan berisiko tak baik bagi kesehatan penikmatnya. Namun, hal itu tak menghentikannya berjualan agar-agar berbumbu bahan kimia berbahaya.
Yang mengerikan, dalam sehari saja si pedagang memproduksi 100 hingga 300 gelas kecil agar-agar jeli berbalut bahan kimia ini. Harga yang dibanderolnya juga cukup murah. Satu gelas-agar agar jeli hanya Rp 1.000. Coba bayangkan, hanya satu pedagang dalam sehari memproduksi ratusan gelas agar berbahaya.
Memasarkan agar-agar jeli juga bukan hal yang sulit karena si pedagang sudah punya pelanggan tetap yang umumnya anak-anak. Biasanya ia juga berkeliling kampung melariskan dagangannya. Ia terus berjualan selama ini karena beralasan tak pernah mendapat keluhan dari pelanggan.
Namun, tak ingin gegabah dengan membuat kesimpulan sendiri, sampel agar-agar jeli kami ambil secara acak dari sejumlah pedagang untuk diuji ke laboratorium milik Dinas Kesehatan. Lewat tangan-tangan para ahli di bidang pengujian makanan, terbukti agar-agar yang disampling positif mengandung boraks, juga zat pewarna tekstil. Dua bahan kimia berbahaya yang bisa mengakibatkan gangguan kesehatan yang serius.
Namun, fakta ini bukan berarti kecurangan merasuki semua pedagang agar-agar. Masih banyak penjual agar-agar jeli yang jujur dan tak merugikan konsumen. Salah satunya Asnadi yang memulai usaha sejak 2005. Agar-agar yang ia jual murni tanpa campuran bahan kimia apa pun. Ia juga resah dengan keberadaan penjual agar-agar jeli nakal.
Sebenarnya, agar-agar jeli bila pengolahannya tepat dan penyimpanannya benar, rasanya tak berubah, tetap enak dan segar. Agar-agar jeli tidak perlu ditambahkan zat pengawet atau pengenyal seperti boraks dan juga zat pewarna. Sementara, keberadaan agar-agar berbumbu bahan kimia berbahaya disebabkan pengawasan yang belum maksimal.
Namun, konsumen sebenarnya bisa melindungi dirinya tidak terjebak ikut mengonsumsi agar-agar jeli berbalut bahan kimia berbahaya tersebut dengan cara mengenali agar-agar murni dan yang berbahan kimia.
Agar-agar murni biasanya memiliki tampilan warna yang bercahaya, rasa manisnya asli, tidak pahit, kenyal tapi mudah hancur, dan cepat basi. Sedangkan agar-agar yang bercampur bahan kimia, tampilan warnanya kelihatan pekat, rasanya manis tapi lama-lama pahit, kenyal dan padat, serta tidak cepat basi.
sumber : http://berita.liputan6.com/read/394273/agar-agar-berbumbu-bahan-kimia
Thursday, January 13, 2011
Keributan Kembali Terjadi di 7 Eleven Salemba
Jakarta - Gerai 7 Elevel di Jalan Raya Salemba kembali menjadi sasaran tindak kejahatan. Pada Jumat sekitar pukul 03.45 WIB tadi, kaca minimarket tersebut dilempari batu oleh sekelompok orang tidak dikenal.
Pelaku diduga berjumlah lima orang menggunakan mobil Toyota Avanza yang berhenti di depan gerai 7 Eleven. "Pelaku merusak secara bersama-sama di minimarket dan melempar kaca depan dan bagian kasir pakai batu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto.
Berdasarkan keterangan saksi mata, pelaku datang menggunakan mobil Avanza warna hitam. Kemudian dua orang turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket.
Diketahui, mereka tengah mencari petugas keamanan 7 Eleven yang bernama Edi Supriyadi.
"Edi adalah saksi dari peristiwa pengeroyokan sebelumnya di lokasi yang sama yang mengakibatkan dua orang terluka. Tapi karena yang dicari tidak ketemu, pelaku marah dan merusak kaca etalase dan mesin kasir," jelasnya.
Setelah itu mereka melarikan di ke arah Matraman dengan mobil yang dibawa. Namun sayangnya tidak ada saksi yang melihat nopol kendaraan para pelaku.[bay]
sumber : http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1860285/keributan-kembali-terjadi-di-7-eleven-salemba
Subscribe to:
Posts (Atom)